SEGANTANGLADA.ID
Karimun-Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) menggelar Dialog Seminar Tim Penulis Sejarah Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau di Ballroom Hotel Karimun City, Jumat (8/5) siang.
Dalam seminar tersebut, Syuzairi yang dikenal sebagai salah satu tokoh BP3KR menegaskan pentingnya semangat lintas batas dan prioritas visi-misi Kepulauan Riau dalam perjalanan sejarah pembentukan Provinsi Kepri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga harus menjadi landasan dalam membangun persatuan, identitas daerah, dan arah pembangunan Kepri ke depan.
Dialog seminar ini menghadirkan tim penulis sejarah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau serta sejumlah tokoh masyarakat, pejuang pembentukan daerah, akademisi, dan undangan lainnya. Kegiatan tersebut bertujuan menghimpun berbagai pandangan, dokumentasi, dan pengalaman para pelaku sejarah untuk memperkuat penulisan sejarah resmi pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Syuzairi Tekankan Pentingnya Konsep Lintas Batas Kepri–Malaysia–Singapura dalam Seminar Sejarah Pembentukan Kepri
Dalam Dialog Seminar Tim Penulis Sejarah Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau yang digelar oleh Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) di Ballroom Hotel Karimun City, Jumat (8/5) siang,
Syuzairi menyoroti pentingnya penguatan konsep lintas batas sebagai roh utama pembangunan Kepulauan Riau sejak awal perjuangan pembentukan provinsi.
Menurut Syuzairi, posisi geografis Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura menjadikan daerah ini memiliki karakter pembangunan yang berbeda dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Karena itu, visi pembentukan Kepri sejak awal tidak hanya berbicara soal pemekaran wilayah administratif, tetapi juga membangun kawasan ekonomi strategis berbasis konektivitas regional.
Ia menjelaskan bahwa konsep lintas batas Kepri–Malaysia–Singapura harus diarahkan pada efisiensi perdagangan, mobilitas masyarakat, serta penyederhanaan biaya ekonomi, khususnya dalam sektor perpajakan dan distribusi barang antarnegara.
“Kepri sejak awal diperjuangkan sebagai wilayah yang mampu menjadi jembatan ekonomi internasional. Maka kebijakan lintas batas harus memberikan kemudahan, bukan justru memperbesar beban biaya perdagangan dan logistik,” ujar Syuzairi dalam forum seminar.
Ia menilai, tingginya biaya pajak dan administrasi lintas batas masih menjadi tantangan yang memengaruhi daya saing pelaku usaha di Kepulauan Riau. Padahal, kedekatan wilayah Kepri dengan Johor Malaysia dan Singapura seharusnya menjadi keuntungan strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan.
Syuzairi juga menekankan perlunya sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah agar aktivitas perdagangan lintas batas dapat berjalan lebih efisien, termasuk penguatan kawasan perdagangan bebas, pelabuhan internasional, dan kemudahan arus barang serta investasi.
Menurutnya, semangat perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau dahulu berangkat dari kebutuhan masyarakat perbatasan yang menginginkan pemerataan pembangunan dan kebijakan ekonomi yang sesuai dengan karakter wilayah maritim.
“Kalau biaya lintas batas bisa ditekan, maka sektor perdagangan, UMKM, industri maritim, hingga pariwisata Kepri akan bergerak lebih cepat. Ini sejalan dengan cita-cita awal para pejuang pembentukan provinsi,” katanya.
Dialog seminar tersebut dihadiri sejumlah tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, tim penulis sejarah, akademisi, serta unsur masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pendokumentasian sejarah pembentukan Kepri agar generasi mendatang memahami nilai perjuangan, arah pembangunan, serta visi strategis daerah perbatasan Indonesia di kawasan Asia Tenggara
OFFICIAL SEGANTANGLADA.ID

















Tinggalkan Balasan