SEGANTANGLADA.ID
TANJUNGPINANG — Batas wilayah administratif boleh saja menyekat peta, namun cita rasa dan akar budaya selalu punya cara untuk melampauinya. Semangat melintasi batas inilah yang melandasi pertemuan penting di Kampus Pascasarjana Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) pada Senin (6/7/2026).
Pascasarjana UMRAH secara resmi menerima kunjungan akademik dari tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan ini, bukan sekadar seremoni meja hijau biasa, melainkan sebuah langkah strategis untuk menelisik lebih dalam potensi besar gastronomi Melayu dan pariwisata lintas batas (cross-border tourism) di Kepulauan Riau.
Membaca Diplomasi Pangan di Segitiga Serumpun
Kolaborasi riset yang diusung kali ini bertajuk sangat spesifik dan visioner: “Gastrotourism and Cross-Border Cultural Practices in a Serumpun Malay World: Food Culture, Mobility, and Everyday Encounters in Batam–Bintan, Riau Islands Province.”
Penelitian ini memfokuskan teropong ilmiahnya pada kawasan Batam dan Bintan.
Dua wilayah ini dinilai sangat unik karena tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan sehari-hari (everyday encounters) masyarakat serumpun Melayu dari berbagai negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Melalui riset ini, makanan tidak lagi dipandang sekadar pengisi perut, melainkan medium diplomasi budaya, identitas, dan penggerak mobilitas manusia.
Tim riset kolaboratif ini dipimpin oleh Gregorius Andika Ariwibowo, S.S., M.A. dari BRIN, dengan merangkul para akademisi lokal yang memahami betul karakteristik wilayah. Salah satu pilar penting di tim ini adalah Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, M.A., sejarawan sekaligus Wakil Direktur Bidang Akademik, Perencanaan, dan Kemahasiswaan Pascasarjana UMRAH, yang ikut mengawal jalannya riset dari sudut pandang lokal yang kaya.
Sinergi Akademis demi Dampak Nyata
Kedatangan tim BRIN disambut hangat langsung oleh Direktur Pascasarjana UMRAH, Dr. Rumzi Samin, S.Sos., M.Si.
Dalam sambutannya, Ia menegaskan, bahwa kerja sama ini adalah manifestasi nyata dari komitmen UMRAH untuk tidak sekadar menjadi “menara gading” akademis.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional seperti BRIN adalah langkah taktis. Hasil riset ini nantinya tidak boleh berhenti di laci perpustakaan sebagai jurnal ilmiah saja. Kita ingin luaran penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi pembuat kebijakan, pelestarian kebudayaan, serta memberi dampak ekonomi riil bagi masyarakat Kepulauan Riau melalui sektor pariwisata berbasis kuliner,” ungkap Dr. Rumzi Samin mantap.
Gastronomi: Dari Warisan Takbenda Menuju Industri Wisata
Untuk membedah kompleksitas budaya pangan Melayu, forum diskusi ini menghadirkan dua figur kunci sebagai narasumber:
Dr. Raja Suzana Fitri, M.Pd. (Pakar Gastronomi Melayu)
Ia memaparkan, bagaimana setiap bumbu, bahan baku, hingga metode memasak dalam khazanah kuliner Melayu memiliki filosofi mendalam.
Gastronomi Melayu adalah representasi adaptasi manusia terhadap alam bahari dan jalur perdagangan rempah dunia.
Drs. H. Thamrin Dahlan (Budayawan Melayu Kepulauan Riau)
Sosok yang konsisten mendokumentasikan tradisi lisan dan budaya Kepri ini membawa perspektif sosiologis.
Ia menyoroti, bagaimana panganan tradisional Melayu mampu bertahan di tengah modernisasi dan bagaimana narasi (storytelling) di balik setiap hidangan dapat menjadi daya tarik magis bagi wisatawan mancanegara.
Keduanya sepakat bahwa makanan tradisional memiliki potensi luar biasa sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang jika dikemas secara modern melalui gastrotourism (wisata gastronomi), akan menjadi magnet pariwisata baru yang sangat kuat di kawasan perbatasan.
Meneguhkan Jati Diri Kemaritiman dan Kemelayuan
Bagi Pascasarjana UMRAH, kolaborasi ini semakin memperkokoh visi institusi sebagai pusat keunggulan ilmiah yang berorientasi pada kemaritiman dan kemelayuan (marine and Malay culture).
Dengan letak geografis Kepulauan Riau yang sangat strategis di selat tersibuk dunia, kajian mengenai mobilitas manusia dan budaya pangan di wilayah perbatasan adalah kunci untuk membaca masa depan kawasan. Sinergi berkelanjutan antara BRIN, UMRAH, praktisi, dan budayawan ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret—menjadikan kebudayaan Melayu bukan sekadar romansa masa lalu, melainkan kekuatan sosial-ekonomi yang dinamis dan berdaya saing global.***
OFFICIAL SEGANTANGLADA.ID

















Tinggalkan Balasan