MAHKAMAH Oleh: Ary Satia Dharma

- Penulis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAHKAMAH

Oleh: Ary Satia Dharma

Di ujung hidupnya, Mayor Saiful Bahri duduk sendirian dalam gelap kamarnya. Kepalanya tertunduk, napasnya berat, dan tatapannya kosong — seolah memandang sesuatu yang lebih jauh daripada tembok kusam di depannya. Saat itulah mahkamah imajiner itu muncul: sebuah persidangan batin yang hanya dapat disaksikan oleh mereka yang mengalami pergulatan dengan hati nuraninya sendiri. Hakim, jaksa, dan pembelanya… semuanya berdiri di hadapannya. Dan yang lebih mengerikan: ketiganya adalah dirinya sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mayor Saiful Bahri,” suara hakim menggema dari tempat yang tak terlihat, “Apakah engkau menembak Kapten Anwar demi perjuangan… atau demi kepentingan dirimu sendiri?”

Saiful tak dapat menjawab. Jaksa menimpali dengan dingin, “Kami tahu, Nyonya Murni — istrimu — pernah menjadi kekasih Kapten Anwar. Dan engkau telah lama memendam cinta yang sama terhadapnya.”

Pembela mencoba meredam: “Namun perang tidak memberi pilihan. Keputusan harus diambil. Demi perjuangan Kapten Anwar memang harus dihukum mati”

Tapi hakim hanya menatap Saiful, menunggu pengakuan yang tak pernah datang, hingga ia sendiri runtuh oleh rasa bersalah yang selama ini dikuburnya. Adegan itu — sebagaimana dipentaskan ulang oleh TVRI pada tahun-tahun emas teater televisi (1984) — menjadi salah satu momen paling pilu dalam sejarah drama di Indonesia: sebuah pengadilan hati, tempat kita diadili oleh diri sendiri…

Mahkamah adalah satu dari sedikit drama Indonesia yang berhasil memadukan tragedi personal dengan kritik moral secara begitu elegan. Kejeniusan Asrul Sani terletak pada keberaniannya memindahkan konflik perang dari medan laga ke medan batin. Drama yang diperankan secara apik oleh sahabat ayah saya, Oom Said Galeb Husin (Aktor dan Sutradara asal Kota Tanjungpinang) — tidak menampilkan heroisme, tidak mengagungkan patriotisme, dan tidak menggambarkan kemenangan. Sebaliknya, ia menguliti sisi paling rapuh dari manusia yang berada di pusaran sejarah.

Dalam versi TVRI, adaptasi para kreator memperkaya lapisan emosional dengan menambahkan dimensi sentimental — hubungan cinta lama antara Murni dan Anwar — yang membuat keputusan Saiful semakin tragis. Tetapi bahkan tanpa elemen itu, tulang-belulang drama ini sudah kuat: pergulatan antara tugas, takdir, dan dosa masa lalu.

Asrul Sani adalah penulis yang memahami bahwa pahlawan tak selalu menang melawan dirinya sendiri. Terkadang, musuh terbesar bukan lawan di medan perang, tetapi bayangan kita sendiri.

Di tengah dunia yang kita tinggali sekarang — yang penuh hiruk-pikuk politik, polarisasi media sosial, serta ketidakpastian ekonomi — Mahkamah terasa semakin relevan. Kita hidup di era di mana keputusan-keputusan publik sering dibungkus narasi pengabdian, tetapi sulit dibedakan dari kepentingan pribadi. Banyak tokoh tampil sebagai “pahlawan”, tetapi di baliknya terdapat ambisi, dendam, atau sekadar keinginan mempertahankan wajah.

Krisis politik sering muncul bukan karena lawan terlalu kuat, tetapi karena pemimpin terlalu sibuk membenarkan diri sendiri. Di dunia birokrasi, kita melihat keputusan administratif yang tampak objektif, tetapi disusupi preferensi personal. Di sektor ekonomi, perusahaan mengambil langkah yang disebut “demi stabilitas”, padahal melindungi kepentingan pemilik modal. Bahkan dalam kehidupan sosial, kita sering menghakimi orang lain tanpa pernah membuka mahkamah terhadap diri sendiri.

Kita hidup dalam zaman ketika setiap orang sibuk menjadi jaksa bagi sesama, tetapi lupa menjadi hakim bagi diri sendiri.

Pada akhirnya, Mahkamah bukan sekadar drama — ia adalah cermin. Setiap dari kita mungkin pernah mengambil keputusan yang kita bela dengan argumen rasional, tetapi ingin kita lupakan diam-diam. Keputusan yang kita tutup dengan dalih “tugas”, “keharusan”, atau “kondisi”, padahal kita tahu ada kepentingan pribadi yang ikut menggerakkan tangan kita.

Dan sebagaimana Saiful Bahri, pengadilan itu tidak pernah benar-benar selesai. Kita bisa berpura-pura tegar, bisa menutup semua pintu memori, bisa menenggelamkan rasa bersalah dengan pekerjaan, prestasi, bahkan gelar kehormatan. Namun suatu saat, di ruang yang sepi, ketika tidak ada lagi yang bisa dibohongi, seseorang akan mengetuk dari dalam: kita sendiri.

Pada saat itulah mahkamah itu kembali bersidang — hakimnya diri kita, jaksa penuntutnya hati nurani, dan pembelanya segala alasan yang selama ini kita simpan. Pertanyaannya selalu sama:

“Apakah kita melakukan itu demi kebenaran… atau demi diri kita sendiri?”

Drama Mahkamah mengingatkan bahwa peradilan hati nurani tidak mengenal kadaluarsa. Ia hanya menunggu kita cukup berani untuk duduk di kursi terdakwa — dan menjawab pertanyaan yang paling kita takuti.

Berita Terkait

Menyusuri Pesisir Singkep: Catatan Perjalanan Spiritual Nurdin Basirun di Bumi Lingga
Hadiri Wisuda Tahfidz Ponpes Baitul Qur’an, Nurdin Basirun Bakar Semangat Para Penjaga Al-Qur’an di Dabo Singkep
Safari Dakwah di Lingga: Nurdin Basirun Rajut Silaturahmi Lewat Rangkaian Agenda Keagamaan di Dabo Singkep  
​”Menjaga Marwah Kepri”: Mengapa Sosok Nurdin Basirun Masih Menjadi Harapan Rakyat Melayu?
Atasi Eksploitasi Pekerja ‘Passing’ di Perbatasan, BP3KR Usulkan Skema Special Border Treatment dengan Malaysia
BP3KR Desak DPR Sahkan RUU Daerah Kepulauan dan Tuntut Reformasi Fiskal Maritim
Penuh Khidmat, Alunan Biola Syahdu Narisha Cinta Srimulyani Warnai Peringatan Hari Marwah Kepri di Gedung BP3KR  
Alunan Biola Qurnia Febrianti “Guncang” Gedung BP3KR di Hari Marwah Kepri
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:33 WIB

Gerilya Limbah PT KHS di Laut Kepri: Saat Otoritas Pelabuhan Memilih “Tuli dan Gagu”  

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:54 WIB

Fenomena ‘No Viral, No Action’ di Baran: Warga Bayar Iuran Kebersihan, Tapi Disuguhi Pemandangan ‘Gunung’ Sampah

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:29 WIB

Kepanikan Siang Bolong di Perumahan TMK Sei. Raya: Petugas BPBD Evakuasi Ular Sanca Sepanjang 3 Meter

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:46 WIB

Gagal Kendali, APV Hentak Pembatas Jalan di Karimun Sampai Hancur, Pengemudi Selamat”

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:03 WIB

Ujian Madrasah 2026 di MTsN Karimun Sukses Digelar, Endang Eryani, S.Pd.: “Momentum Mencetak Generasi Berakhlak”

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:55 WIB

Siswa Terbaik MTsN Karimun Siap Menggebrak Jakarta: Muhammad Haiqal Rifkie Lolos Seleksi Jambore Nasional XII 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:45 WIB

Kasi Pendidikan Islam Kemenag Karimun Pantau Pelaksanaan Ujian Madrasah di MTsN Karimun  

Senin, 11 Mei 2026 - 15:23 WIB

Panen Prestasi! SMPN 1 Karimun Borong 6 Piala di Ajang FLS2N Tingkat Kabupaten

Berita Terbaru