SEGANTANGLADA.ID
Tanjung Pinang — Peringatan Hari Marwah Kepulauan Riau (Kepri) tahun ini membawa pesan mendalam yang melampaui riuh seremonial. Jumat 15 Mei 2026.
Tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepri sekaligus mantan Bupati Kepulauan Riau, Huzrin Hood, melontarkan gagasan besar yang visioner.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beliau menegaskan bahwa masa depan Bumi Segantang Lada tidak boleh melupakan akar sejarahnya.
Melalui momentum krusial ini, Huzrin Hood secara khusus mendorong percepatan penulisan dan penyebarluasan Buku Sejarah Pembentukan Provinsi Kepri. Bagi sang tokoh sentral perjuangan ini, buku sejarah bukanlah sekadar arsip masa lalu, melainkan sebuah “kompas strategis” untuk membawa Kepri berkembang pesat dan mandiri di masa depan.
Membaca Masa Lalu untuk Melompat ke Masa Depan
Bagi Huzrin, esensi dari kata “Marwah” adalah harga diri dan kedaulatan masyarakat Kepri atas tanah kelahirannya. Kehadiran buku sejarah yang komprehensif dinilai sangat mendesak agar generasi muda dan para pembuat kebijakan hari ini memahami “darah, keringat, dan air mata” di balik berdirinya provinsi ke-32 di Indonesia ini.
“Buku sejarah itu penting agar kita tidak amnesia sejarah. Kita harus tahu dari mana kita bermula untuk tahu ke mana kita akan melangkah. Hari Marwah harus menjadi bahan bakar spiritual agar Kepri berkembang jauh lebih hebat dari hari ini,” ujar Huzrin Hood dengan nada bergetar penuh kharisma.
Menurutnya, penulisan sejarah yang akurat akan menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang kuat di hati masyarakat. Ketika masyarakat, terutama generasi Z dan Milenial Kepri, memahami nilai perjuangan para pendahulu, mereka akan memiliki benteng moral yang kuat untuk membangun daerahnya tanpa kehilangan jati diri Melayu.
Tiga Pesan Sentral Huzrin Hood untuk Kemajuan Kepri
Agar Kepri benar-benar berkembang sesuai cita-cita luhur pembentukannya, Huzrin Hood menggarisbawahi tiga poin penting yang harus diakomodasi oleh seluruh elemen daerah:
1. Sejarah sebagai Fondasi Kebijakan Publik
Huzrin berharap para pemimpin daerah saat ini membaca kembali arah perjuangan pembentukan Kepri saat merumuskan kebijakan. Sektor ekonomi maritim, konektivitas antar-pulau (hinterland), dan kesejahteraan nelayan tradisional harus tetap menjadi prioritas utama pembangunan, bukan sekadar pelengkap.
2. Pendidikan Karakter Berbasis Sejarah Lokal
Penulisan buku sejarah Kepri harus masuk ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ini penting untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang berdaya saing global, namun tetap memegang teguh nilai adat Melayu Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah.
3. Kemandirian Ekonomi Berbasis Geografis
Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, Kepri harus mampu memanfaatkan letak geopolitiknya yang strategis. Huzrin menekankan bahwa perkembangan Kepri tidak boleh bergantung sepenuhnya pada pusat, melainkan harus melahirkan inovasi-inovasi lokal di kawasan Free Trade Zone (FTZ) dan sektor pariwisata internasional.
Warisan Perjuangan untuk Generasi Penerus
Menutup refleksinya, Huzrin Hood mengajak seluruh elemen—mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, akademisi, budayawan, hingga pelaku usaha—untuk bersatu padu mendukung penerbitan literatur sejarah Kepri ini.
“Hari Marwah bukan sekadar mengenang rapat akbar belasan tahun lalu. Hari Marwah adalah janji kita kepada masa depan. Melalui buku sejarah yang kita susun bersama, kita titipkan semangat juang ini kepada anak cucu kita agar mereka mampu membawa Kepulauan Riau berkembang menjadi episentrum ekonomi maritim yang disegani di Asia Tenggara,” pungkas Huzrin optimis.
OFFICIAL SEGANTANGLADA.ID

















Tinggalkan Balasan