SEGANTANGLADA.ID
Tanjung Pinang — Momentum peringatan Hari Marwah Kepulauan Riau (Kepri) tahun ini menjadi ajang refleksi mendalam bagi masa depan Bumi Segantang Lada. Tokoh masyarakat sekaligus birokrat senior Kepri, Syuzairi, menyampaikan pesan penuh optimisme dan menaruh harapan besar agar Provinsi Kepri mampu berlari lebih kencang dan bertransformasi menjadi daerah yang maju di segala lini.Jumat, 15 Mei 2026.
Hari Marwah bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan pengingat akan perjuangan panjang pembentukan provinsi ini. Bagi Syuzairi, esensi dari “Marwah” adalah harga diri, martabat, dan semangat kemandirian yang harus diterjemahkan ke dalam pembangunan nyata yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kepri memiliki modal geografis dan sumber daya yang luar biasa. Peringatan Hari Marwah ini harus kita jadikan batu loncatan untuk berpikir jauh ke depan (Kepri Maju). Kita tidak boleh jalan di tempat, kita harus melompat maju,” ungkap Syuzairi penuh semangat saat diwawancarai .
Tiga Pilar Strategis Menuju “Kepri Maju”
Untuk mewujudkan visi Kepri yang maju dan berdaya saing global, Syuzairi menekankan pentingnya akselerasi pada tiga sektor utama yang saling terintegrasi:
1. Optimalisasi Ekonomi Maritim & Dorongan Investasi
Sebagai provinsi kepulauan di mana luas lautan mencapai 96%, potensi laut Kepri harus menjadi motor utama kesejahteraan masyarakat. Syuzairi menilai, sektor perikanan, industri galangan kapal, pariwisata bahari, hingga pemanfaatan ruang laut untuk logistik internasional harus digarap lebih agresif.
Langkah ini wajib didukung oleh iklim investasi yang ramah, akuntabel, dan transparan di kawasan Free Trade Zone (FTZ) seperti Batam, Bintan, dan Karimun. Integrasi regulasi yang sinkron antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama untuk menarik minat investor global.
2. Peningkatan Kualitas SDM (Sumber Daya Manusia)
Kepada menghadapi era transformasi digital dan pasar global, investasi pada manusia adalah harga mati.
Syuzairi menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi muda Kepri yang tidak hanya menguasai teknologi dan sains, tetapi juga siap bersaing di pasar kerja internasional.
Kendati demikian, modernisasi tersebut tidak boleh mencabut akar budaya lokal.
Pembangunan SDM di Kepri harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter budaya Melayu sebagai payung negeri, sehingga generasi penerus memiliki daya saing global berjiwa lokal.
3. Pemerataan Infrastruktur Hinterland
Salah satu tantangan terbesar provinsi kepulauan adalah ketimpangan konektivitas. Syuzairi menegaskan bahwa kue pembangunan tidak boleh hanya dinikmati oleh wilayah perkotaan (mainland).
Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan harus memastikan konektivitas antar-pulau berjalan mulus. Penguatan infrastruktur di wilayah hinterland—mulai dari akses transportasi laut yang terjangkau, jaringan listrik 24 jam, pemenuhan air bersih, hingga akses internet yang merata—menjadi syarat mutlak demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh warga Kepri.
Seruan Sinergi: Menghapus Ego Sektoral
Di akhir pemaparannya, birokrat senior yang kaya akan pengalaman memimpin ini mengingatkan bahwa visi besar “Kepri Melompat Maju” mustahil tercapai jika setiap elemen berjalan sendiri-sendiri. Hari Marwah harus menjadi momentum untuk meluruhkan ego sektoral dan memperkuat jembatan kolaborasi.
“Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, tokoh adat, hingga generasi muda harus berada dalam satu barisan yang sama. Sinergi dan kolaborasi adalah bahan bakar utama kita. Mari kita jaga marwah negeri ini dengan kerja nyata, demi membawa Kepulauan Riau menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi baru di gerbang utara Indonesia,” pungkas Syuzairi optimis.
OFFICIAL SEGANTANGLADA.ID

















Tinggalkan Balasan