Minimnya Pengetahuan Sejarah Bahasa di Era Modern, Warga Tanjungpinang Soroti Identitas Melayu

- Penulis

Senin, 6 April 2026 - 06:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEGANTANGLADA.ID

Tanjungpinang – Seorang warga Tanjungpinang mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin minimnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah dan jati diri bahasa Melayu di era modern saat ini. Senin 6 April 2026.

Dengan mengangkat pepatah Melayu, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ia menegaskan bahwa hidup di Tanah Melayu seharusnya diiringi dengan penghormatan terhadap bahasa dan budaya Melayu sebagai identitas utama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, penggunaan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan kesadaran akan asal-usul dan jati diri.

Ia menilai, bahwa saat ini mulai muncul kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih memilih menggunakan istilah “bahasa Indonesia” dalam konteks yang kurang tepat, bahkan menjadikannya sebagai tren.

Padahal, menurutnya, hal tersebut mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap sejarah bahasa itu sendiri.

“Tidak ada sejarahnya orang Melayu perlu belajar bahasa Indonesia, agar dapat mengucapkan nya secara fasih. Justru sebaliknya, bahasa Indonesia itu berakar dari bahasa Melayu. Seharusnya orang yang datang dan hidup di Tanah Melayu lah, yang perlu belajar serta menghargai bahasa Melayu sebagai bentuk penghormatan.

Dan juga berkenaan terhadap marwah Bahasa melayu sebagai induk bahasa Indonesia , juga “Tuan bahasa di Asia Tenggara” , dengan adanya bahasa Melayu laah menjadikan penghantar bahasa di Asia Tenggara ini, kita memberikan Bahasa Riau-Johor, dan Soekarno di Jakarta telah mengotak atik menjadi “Sangskerta” bukan lagi bahasa murni Riau-Johor dan bukan berkenaan Kepulauan Riau penciptaan bahasa “Sangskreta” itu di Jawa, Jawa laah pencipta bahasa Melayu ke “Indonesia Sangskerta” menjadi Bahasa Indonesia KBBI dan hingga ke saat ini .

Bila dipahami sebenar benarnya faham, bukan sekedar tahu, tahu dan faham itu sangat berbeda kedalaman pengetahuan nya” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia juga mengambil perbandingan dengan masyarakat  Malaysia dalam mengucapkan bahasa Indonesia.

Menurutnya, ia tidak pernah mendengar perlunya perlajaran khusus bagi masyarakat Malaysia juga melayu dalam mempelajari bahasa Indonesia juga agar dapat mengucapkan nya secara fasih, Dikarenakan, bahasa Indonesia itu berakar dari bahasa Melayu. Dan juga, bangsa tersebut memiliki akar yang sama, yakni rumpun Melayu (Kepri-Malaysia), meskipun berbeda negara 1949 Kepri sebab (Negosiasi NKRI).

Ia juga menyinggung, peran wilayah Kepulauan Riau, khususnya dalam perkembangan bahasa Melayu Johor-Riau yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan bahasa Indonesia modern.

Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut tidak serta-merta menjadikan Melayu kehilangan posisinya sebagai bahasa induk.

“Bahasa Melayu tetaplah induk. Ibarat seorang anak, sudah seharusnya belajar dari ibunya, bukan sebaliknya,” ungkapnya dengan kiasan khas Melayu.

Di akhir pernyataannya, ia berharap adanya ketegasan dalam menjaga identitas bahasa dan budaya, baik melalui pendidikan, penggunaan sehari-hari, maupun pemahaman sejarah. Menurutnya, menjaga bahasa berarti juga menjaga marwah dan jati diri sebagai masyarakat Melayu.***

OFFICIAL SEGANTANGLADA.ID

Berita Terkait

Menyusuri Pesisir Singkep: Catatan Perjalanan Spiritual Nurdin Basirun di Bumi Lingga
Hadiri Wisuda Tahfidz Ponpes Baitul Qur’an, Nurdin Basirun Bakar Semangat Para Penjaga Al-Qur’an di Dabo Singkep
Safari Dakwah di Lingga: Nurdin Basirun Rajut Silaturahmi Lewat Rangkaian Agenda Keagamaan di Dabo Singkep  
​”Menjaga Marwah Kepri”: Mengapa Sosok Nurdin Basirun Masih Menjadi Harapan Rakyat Melayu?
Atasi Eksploitasi Pekerja ‘Passing’ di Perbatasan, BP3KR Usulkan Skema Special Border Treatment dengan Malaysia
BP3KR Desak DPR Sahkan RUU Daerah Kepulauan dan Tuntut Reformasi Fiskal Maritim
Penuh Khidmat, Alunan Biola Syahdu Narisha Cinta Srimulyani Warnai Peringatan Hari Marwah Kepri di Gedung BP3KR  
Alunan Biola Qurnia Febrianti “Guncang” Gedung BP3KR di Hari Marwah Kepri
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:33 WIB

Gerilya Limbah PT KHS di Laut Kepri: Saat Otoritas Pelabuhan Memilih “Tuli dan Gagu”  

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:54 WIB

Fenomena ‘No Viral, No Action’ di Baran: Warga Bayar Iuran Kebersihan, Tapi Disuguhi Pemandangan ‘Gunung’ Sampah

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:29 WIB

Kepanikan Siang Bolong di Perumahan TMK Sei. Raya: Petugas BPBD Evakuasi Ular Sanca Sepanjang 3 Meter

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:46 WIB

Gagal Kendali, APV Hentak Pembatas Jalan di Karimun Sampai Hancur, Pengemudi Selamat”

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:03 WIB

Ujian Madrasah 2026 di MTsN Karimun Sukses Digelar, Endang Eryani, S.Pd.: “Momentum Mencetak Generasi Berakhlak”

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:55 WIB

Siswa Terbaik MTsN Karimun Siap Menggebrak Jakarta: Muhammad Haiqal Rifkie Lolos Seleksi Jambore Nasional XII 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:45 WIB

Kasi Pendidikan Islam Kemenag Karimun Pantau Pelaksanaan Ujian Madrasah di MTsN Karimun  

Senin, 11 Mei 2026 - 15:23 WIB

Panen Prestasi! SMPN 1 Karimun Borong 6 Piala di Ajang FLS2N Tingkat Kabupaten

Berita Terbaru