SEGANTANGLADA.ID
Tanjungpinang – Seorang warga Tanjungpinang mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin minimnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah dan jati diri bahasa Melayu di era modern saat ini. Senin 6 April 2026.
Dengan mengangkat pepatah Melayu, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ia menegaskan bahwa hidup di Tanah Melayu seharusnya diiringi dengan penghormatan terhadap bahasa dan budaya Melayu sebagai identitas utama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, penggunaan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan kesadaran akan asal-usul dan jati diri.
Ia menilai, bahwa saat ini mulai muncul kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih memilih menggunakan istilah “bahasa Indonesia” dalam konteks yang kurang tepat, bahkan menjadikannya sebagai tren.
Padahal, menurutnya, hal tersebut mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap sejarah bahasa itu sendiri.
“Tidak ada sejarahnya orang Melayu dipaksa belajar bahasa Indonesia. Justru bahasa Indonesia itu berakar dari bahasa Melayu. Seharusnya orang yang datang dan hidup di Tanah Melayu yang belajar serta menghargai bahasa Melayu sebagai bentuk penghormatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia membandingkan dengan kondisi di Malaysia. Menurutnya, ia tidak pernah mendengar adanya kewajiban khusus bagi masyarakat Malaysia untuk mempelajari bahasa Indonesia, karena pada dasarnya kedua bangsa tersebut memiliki akar yang sama, yakni rumpun Melayu, meskipun berbeda negara.
Ia juga menyinggung peran wilayah Kepulauan Riau, khususnya dalam perkembangan bahasa Melayu Johor-Riau yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan bahasa Indonesia modern.
Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut tidak serta-merta menjadikan Melayu kehilangan posisinya sebagai bahasa induk.
“Bahasa Melayu tetaplah induk. Ibarat seorang anak, sudah seharusnya belajar dari ibunya, bukan sebaliknya,” ungkapnya dengan kiasan khas Melayu.
Di akhir pernyataannya, ia berharap adanya ketegasan dalam menjaga identitas bahasa dan budaya, baik melalui pendidikan, penggunaan sehari-hari, maupun pemahaman sejarah. Menurutnya, menjaga bahasa berarti juga menjaga marwah dan jati diri sebagai masyarakat Melayu.***
OFFICIAL SEGANTANGLADA.ID















